Powered By Blogger
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts
Mempersiapkan

Masih sama seperti sebelumnya, Tantri mendaftar sebagai pendidik atau guru Bahasa Inggris untuk SLB (Sekolah Luar Biasa) setingkat Sekolah Menengah Pertama. Setelah mendaftar, Tantri pu mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian.

Ia pun memulainya dengan membaca buku dan mempelajari soal-soal CPNS tahun-tahun sebelumnya. Karena materi yang diujikan pada tahun-tahun sebelumnya sama. Yaitu seputar kepegawaian, Undang-undang Dasar, sejarah, GBHN, dan pengetahuan umum.

Cara yang dipakai Tantri untuk belajar cukup unik. Soal-soal tersebut dibacakan oleh saudaranya, atau salah seorang teman, kemudian direkam dalam sebuah kaset yang nantinya dapat ia putar sewaktu-waktu untuk dipakainya belajar.

“Saya mencari jawabannya dengan cara serupa. Saudara atau teman membaca literature-literatur yang diujikan, lantas saya rekam. Kemudian, saya dengar berulang kali untuk mencari jawabannya,” terangnya. Pelaksanaan ujian pun berbeda dengan para peserta lainnya. Bagi peyandang tuna netra disediakan tempat khusus. Saat pelaksanaan ujian di Kodam V Brawijaya, Tantri merasa sedikit cemas. Karena pendikte naskah soal disediakan langsung oleh penyelenggara ujian.

“Sempat khawatir, karena pendikte dari sana. Saya takutnya, mereka belum terbiasa mendiktekan tuna netra. Alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Semuanya lancar, katanya.

Walhasil, dari 100 soal pilihan ganda dengan waktu ujian 2 jam, Tantri mampu menyelesaikan dengan cepat. Bahkan, waktu yang disediakan masih tersisa dan bisa ia gunakan untuk memeriksa kembali. “Apapun hasilnya bukan persoalan buat saya. Yang penting, saya dan teman-teman senasib sudah diberi kesempatan,” tukas Tantri, dengan tersenyum.

Ya, kesempatanlah yang dicari Tantri dan teman-teman senasibnya. Sebenarnya, merekapun tak ingin mendapatkan cacat fisik. Tapi, takdirlah yang menentukan. Dan takdir yang mengubah jalan hidup Tantri terjadi pada pertengahan Juli 1988 lalu.

Diungkapkannya, saat terserempet mobil, ia jatu terjerambab dengan sepeda pancalnya. Dia, tak mengalami luka sampai parah, namun kemudian, penglihatannya mulai kabur. Diantar orangtuanya, ia periksa ke dokter mata. Ternyata, dokter menyarankan mata Tantri dioperasi.

“Sampai sekarang saya tak tahu persis penyebab kebutaan saya. Tapi kata orang tua saya kemungkinan karena kecelakaan itu,” terangnya. Meskik menjalani operasi sebanyak 3 kali di RSU dr Soetomo, penglihatan Tantri semakin kabur. Sampai akhirnya mengalami kebutaan total. Tantri menyebut, almarhumah ibundanyalah yang sangat membantu melewati masa-masa awal yang sangat sulit itu.

Akibat kebutaan itu, Tantri pindah ke SMPLB (Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa) di Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB). Karena Tantri merupakan murid yang pintar, guru-guru di YPAB pun mengusahakn agar Tantri bisa masuk ke sekolah umum tingkat SMU. Perjuangan keras Tantri membuahkan hasil. Ia diterima si SMU Negeri 18 Surabaya.

Diterima Aktivitas belajar-mengajar pun tak berbeda, ruang kelas pun sama. Cuma, ia merekam semua materi yang diterangkan oleh gurunya dalam kaset untuk didengarkan kembali di rumah. Jika ada tugas dan ulangan, ia menggunakan mesin tik manual. Kalau ujian, gurunyalah yang membacakan soal-soalnya.

Selepas SMU, Tantri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Tak disangka, seorang yang berkebutuhan khusus bisa diterima di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) jurusan Bahasa Inggris. Ia pun segera mendaftarkan diri ke panitia UMPTN. Namun, saat akan mengikuti UMPTN, Tantri kembali mendapat ujian. Ibunya meninggal dunia karena sakit.

Beruntung, Tantri mempunyai keluarga yang terus memompa semangatnya. Tantri pun diterima di UNESA. Di Universitas, cara belajarnya sama dengan di SMU. Prestasi pun di ukir Tantri. Ia diwisuda dengan Indeks Prestasi Kumulatif yang memuaskan, 3,11. Selain kuliah, Tantri juga jadi pengajar di YPAB.
Posted by computer online Labels:
Tak Patah Semangat

Tantri pun mencoba minta penjelasan pada pihak panitia. Namun, jawaban yang diterimanya terkesan meremehkan, “Mereka menjawab dengan acuh tak acuh. Saya diminta kembali esoknya,” kenang gadis kelahiran 7 Agustus 1974 ini.

Tantri tak pernah semangat. Esok nya ia kembali lagi ketempat pendaftaran di Asrama Haji Sukolilo, dengan diantar kakaknya. Apa yang terjadi? Tantri kembali ditolak.

Meski ditolak untuk ke dua kalinya, Tantri tak patah arang. Ia mencoba mendaftarkan diri di panitia CPNS Sidoarjo. Malang, kembali ditolak. Malah kali ini lebih menyakitkan.

“Anda mau ngapain? Anda tidak bisa mendaftar disini. Anda tidak bisa mengajar di sekolah umum,” ujar Tantri, menirukan perkataan petugas CPNS saat itu.

Sebenarnya, tak banyak yang dituntut oleh gadis berjilbab ini. Hanya sebuah kesempatan yang sama seperti orang-orang pada umumnya dalam mendapatkan pekerjaan.

“Saya hanya ingin diberi kesempatan saja, masalah hasilnya biar tim penilai yang menentukan,” ucap Tantri.

Karena penolakan itu, Tantri bersama rekan-rekannya senasib berjuang mendapatkan hak-haknya. “Saya bersama teman-teman di Persatuan Penyandang Cacat Indonesia menggelar demo damai. Pernah juga kami menyurati Walikota Surabaya,” katanya.

Secercah harapan datang saat Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Surabaya tahun2005. Pada saat itu terjadi kontrak politik antara para Cawawali dengan Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPGI). Isinya, jangan sampai ada diskriminasi lagi dalam perekrutan CPNS.

Setelah menjalani perjuangan panjang dan berat, Tantri diperbolehkan mengikutinya. Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata, putri bungsu dari pasangan Sutartono dan almarhum Siti Nurhayati ini pun mendaftarkan diri pada tanggal 7 Februari di kodam V Brawijaya.
Posted by computer online Labels:
Tak seorangpun di dunia ini ingin mendapat musibah yang mengakibatkan cacat. Begitu pula Tantri Maharani (32), yang mengalami kebutaan setelah mengalami kebutaan setelah mengalami kecelakaan saat duduk di kelas 1 SMP Negeri 12 Surabaya pada tahun 1988 lalu.

Namun, kebutaan itu bukan halangan bagi Tantri untuk menggapai cita-citanya. Berkat dukungan dari keluarganya, semangatnya yang sempat padam menyala lagi. Ia pun kembali melanjutkan sekolah, setelah sempat dua tahun berhenti.

Hebatnya lagi, Tantri melanjutkan pendidikannya di sekolah negeri, termasuk saat di jenjang universitas. Selepas SMUN 18 pada tahun 1992, ia diterima di Universitas Negeri Surabaya. Pada tahun 2000 lalu, ia meraih gelar Sarjana Bahasa Inggris.

Lagi-lagi, Tantri ingin membuktikan bahwa cacat tuna netra bukan halangan untuk meraih cita-cita layaknya orang normal. Pada tahun 2004, ia mendaftarkan diri untuk ikut tes rekruitmen CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di Dinas Pendidikan Kodya Surabaya.

Pilihannya, menjadi guru Bahasa Inggris untuk SLB (Sekolah Luar Biasa) setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Sayang, system perekrutan calon pegawai negeri pada saat itu seakan-akan masih mendiskriminasikan orang-orang yang berkebutuhan khusus (cacat). Pihak panitia tak mengizinkan saya ikut. Alasannya, saya tuna netra, tutur di rumahnya di Jalan Karang Rejo Sawah I/35.
Posted by computer online Labels:
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates